Sunday, November 3, 2019

Cara Menulis ala Gina S. Noer

Diposkan oleh Sarashiba
Jadi pertama-tama, gue mau kasih tau kalau gue bikin blog ini berdasarkan pengalaman pernah ikut kelas menulisnya Mba Gina S Noer, penulis naskah Ku Lari Ke Pantai, Keluarga Cemara, Rudy Habibie dan yang baru-baru ini adalah Dua Garis Biru.


Singkat cerita, gue emang lagi butuh-butuhnya belajar soal menulis dari seorang profesional. Terkadang, baca dari modul seseorang ada yang bisa dipahami, ada juga yang enggak. Mau nanya ke siapa, bingung sendiri.
Kelas yang dua jam penuh gue ikuti itu sangat membantu meringankan pikiran. Yang tadinya terasa buntu, jadi lancar lagi. Ya, memang di setiap perjalanan itu akan selalu ada hikmahnya sekecil apapun jika kita melihat dengan seksama.

Gue mulai ya apa yang udah gue dapetin di kelas itu:
  
1. Tema

Kalian harus tentuin dulu tema apa yang ingin kalian buat. Tema itu seperti gagasan pokok dan menjadi acuan tentang apa yang ingin disampaikan oleh kalian. Tema bisa berupa persoalan moral, agama, sosial atau teknologi yang terkait dengan masalah di kehidupan sehari-hari. 

Buat tema semenarik mungkin, karena tema itu sama seperti membuat fondasi dalam sebuah cerita. Tema yang kuat akan mempengaruhi alur cerita dan memperkecil kemungkinan terkena writer's block. 

Kalau untuk saran gue pribadi, gue udah nyoba berbagai macam tema. Dari yang cuma ikut-ikutan sampai yang bener-bener pengalaman pribadi dijadiin fiksi. Gue akan pilih tema dari hal terdekat dulu. Selalu ada persoalan moral dan sosial yang perlu diulas dan akan mudah ditulis jika persoalan itu dekat dengan kehidupan kita. 

Nulis jadi gak banyak mikirin ide, karena tiap-tiap perjalanannya udah pernah kita lewati. Menjadikan hal sekitar sebagai cerita juga luar biasa kok tanpa harus sibuk mikirin tema apa, tapi malah gak nulis-nulis. Atau gak jadi nulis cuma karena udah pusing duluan mikirin tema. 
  
2. Jujur

Awalnya gue juga kaget, kenapa Mba Gina masukin jujur ke nomor dua hal yang perlu dilakukan. Gue pikir kelas ini akan mengajarkan hal-hal yang bersifat akademis dalam dunia literasi. Ternyata enggak. Dan ini menarik...

Mba Gina bilang, kalau kita udah nentuin tema apa yang ingin kita bangun, coba periksa lagi, lagi dan lagi, sampai mantap. Apa tema yang kalian buat itu udah jujur atau cuma sebatas ingin kelihatan berbeda (atau istilah jaman sekarang, cuma ingin keliatan keren) Padahal tulisan yang mampu menjamah hati para pembacanya adalah cerita-cerita yang jujur. Karena setiap kejujuran yang tertulis akan tersampaikan pesan moral yang ingin disampaikan oleh si penulis.

Kenapa harus sibuk jadi berbeda ketika yang sama juga sama baiknya? Iya kan?

Mba Gina juga kasih contoh tulisan beliau yang terbaru, yaitu Dua Garis Biru. Gue yang nonton, bisa nangis. Pesannya nyampe banget. Jadi, tanpa perlu gue bertanya lebih lanjut sama Mba Gina, gue udah mengerti apa yang beliau maksud.

3. Karakter Yang Kuat

Kalau ditanya karakter Kugy dalam Perahu Kertas, orang pasti inget dengan karakter cewek aneh yang optimis dan makannya banyak. Kalau ditanya karakter Harry Potrer, orang pasti inget anak laki-laki yang tertutup dan pintar tapi hidupnya kesepian. Nah, yang dimaksud Mba Gina di sini adalah memperkuat karakter seperti yang gue contohkan.

Karakter yang kuat adalah karakter yang akan selalu nempel di kepala para pembacanya. Jika karakter itu lucu, pembaca akan merasa gemas sendiri. Jika karakter itu menyebalkan, pembaca akan kesal setiap dia hadir. Jika karakter itu sangat lugu, pembaca juga merasa ingin melindunginya.

Karakter yang kuat akan mendukung kekuatan cerita yang sedang kalian bangun, dan menguatkan karakter ini memang tidak mudah. Kadang kita bisa merubah karakter di tengah-tengah cerita. Sebenarnya tidak apa-apa juga mengubah karakter di tengah atau di akhir cerita, asalkan dengan jalan cerita yang mendukung atau realistis perubahannya. 

Jangan yang tadinya baik, berubah jadi pembunuh di tengah cerita tanpa alasan yang jelas.

4. Ciptakan Argumentasi

Tujuan dari argumentasi itu adalah untuk meyakinkan dan mempengaruhi pembaca agar memiliki pendapat yang sama dengan penulis. Hal itu dilakukan untuk memperkuat pendapat yang diterangkan melalui topik-topik permasalahan yang sedang kalian bahas. Bagi gue, tujuan menulis ya memang untuk menciptakan argumentasi dan menyampaikan pemikiran-pemikiran pribadi kita tentang suatu hal.

Ciri-ciri argumentasi ini mengandung pendapat, pandangan atau keyakinan penulis dalam sebuah permasalahan. Memiliki data akurat yang dipakai untuk meyakinkan pembaca. Menerangkan permasalahan secara terperinci, kemudian memberi kesimpulan dan tak lupa untuk kembali kepada topik utama. Perpaduan argumentasi, merincikan permasalahan, membuat kesimpulan dan kembali menarasikan cerita, sungguh perpaduan yang luar biasa. Kita harus asah ini.

Kreativitas kalian akan diuji dalam membuat paragraf argumentasi. Jika salah-salah kata, kalian tidak akan bisa menciptakan argumentasi kepada para pembaca kalian dan malah mengakibatkan kesalahpahaman. Maka dari itu, balik ke point kedua tadi, jujur. Kejujuran dalam menulis dapat membuat sebuah argumentasi yang tadinya terlihat ambigu menjadi akurat.

5. Show Don't Tell

Pada bagian ini, semua yang hadir di kelas menulis Mba Gina diminta untuk cari satu benda yang paling berkesan. Gue ambil handphone gue. Terus disuruh buat satu paragraf yang sekiranya ingin kita ceritakan tentang benda itu dengan rumus: Show Don't Tell.

Show yang dimaksud di sini adalah memperlihatkan ke para pembaca tentang apa yang kita lakukan tanpa perlu banyak bicara. Percakapan dan narasi yang dibuat dalam sebuah cerita harus sangat seimbang dan tidak boros kata. Terlalu banyak percakapan, tema bisa mendadak berubah sebelum sampai pada klimaksnya. Terlalu banyak bernarasi juga bisa membuat pembaca cepat bosan sebelum sampai klimaks.

Jangan buat kalimat seperti: 

Nara merasa kalau ia jatuh cinta pada Bram

Ini membosankan. Terus kalau udah jatuh cinta kenapa? Gak memperlihatkan gerak-gerik Nara yang sedang jatuh cinta pada Bram. Itu membosankan. Bayangkan jika semua kalimat dalam tulisan kalian, isinya hanya ada kata sifat tanpa mau capek-capek mikirin narasinya. Kalian yang bikin capek, pembaca yang lagi baca pun jenga. Kalimat seperti itu gak menjelaskan alasan kenapa Nara bisa merasa jatuh cinta pada Bram, pembaca dibuat nebak sendiri itu jahat hahaha.

Coba buat seperti ini:
 
Nara menatap Bram dengan tatapan yang berbinar-binar. Hatinya berdegup kencang, sudut-sudut bibirnya mengembangkan senyum ketika melihat Bram tersenyum. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Selalu senang melihat yang dicintainya senang

Dari kalimat ini sudah menjelaskan semua. Alasan Nara jatuh cinta adalah saat melihat Bram tersenyum. Mata Nara yang berbinar-binar, hatinya yang berdegup kencang, menjelaskan situasi yang terjadi pada Nara. Serta menyisipkan kalimat argumentasi untuk para pembaca seperti kalimat tanya, "Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?"

-----

Cukup sampai di sini dulu ya.

Udah pada paham belum? Kalau belum bisa email atau dm.

Email: Sarashibananda@gmail.com
Dm: @sarashibananda

Masih ada beberapa saran lain dari Mba Gina S Noer.

Tapi akan gue buat ulasan keduanya jika kalian setuju.

Mau gue bikin lagi gak? Kalau mau, komen yaaawww!

Sampai jumpa di lain blog, luv!

-----
Dibawah ini adalah lampiran foto-foto saat gue ikut kelasnya.

Gue juga dapet tanda tangan dan ucapan selamat ulang tahun dari Mba Gina, karena tiga hari sebelum acara itu dimulai, gue memang sedang berulang tahun.





0 komentar :

Post a Comment

 

Sarashibananda♥ Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos